Jumat, 12 Agustus 2011

Cinta dan nafsu

Menurut para psikolog, keadaan emosi remaja masih labil karena erat hubungannya dengan hormon pertumbuhan. Suatu saat bisa merasakan kesedihan yang amat sangat, tetapi di lain waktu bisa terlihat sangat bahagia. Bila sedang sedih, seorang remaja terkadang tidak bisa mengendalikan diri. Ini salah, itu salah. Sebaliknya, jika sedang senang-senangnya ia mudah lupa diri.
Alangkah malang, jika di saat labil ini ada pihak yang mengambil ruang dan memanfaatkan kesempatan. Yang lebih rentan adalah kaum wanita. Jika saja defenca mechanis dan protect kesucian diri tidak tegas dipertahankan, hilanglah kehormatan direnggut oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Salim A. Fillah, dalam buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, secara cerdas membongkar kedok orang-orang seperti itu, ”Betapa para penipu menggunakan kata cinta untuk mewakili nafsu keji yang mereka selimutkan sepanjang proses pendahuluan sampai zina yang disebut sebagai pembuktian cinta. Demi Allah mereka berdusta! Setiap laki-laki hanya menginginkan regukan kenikmatan dalam setiap interaksi yang mereka sebut pacaran meski mereka bersumpah bahwa cintanya suci dan sejati.” Astaghfirullahal ’azim...

Jika tidak segera menghindar dari hawa nafsu–yang oleh setan dirangkai dengan pigura cinta–niscaya kita terjerumus ke lembah nista karena tidak mampu menghindar dari jeratannya. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengingatkan kita dalam buku Raudhah al-Muhibbin wa Nazhah al-Musytaqin, yang versi terjemahannya menjadi Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Reaksi Orang-orang Dimabuk Rindu, bahwa, ”Hawa nafsu itu bagaikan perangkap yang sulit untuk dihindari.”

Mari kenali mana yang cinta dan mana yang nafsu. Semoga tidak terbalik dan tertukar di antara keduannya. Yakinlah dan pastikan. Ini cinta dan itu nafsu. Cinta bermuara dari kebeningan dan kesucian hati sehingga mengantarkan kepada keridhaan Allah Swt. Nafsu, kata asy-sya’bi, dalam bahasa Arab disebut hawa yang artinya menjerumuskan. Maksudnya menjerumuskan ke dalam perbuatan dosa, sehingga menjauhkan hamba dengan Rabbnya.

Apakah setiap cinta itu baik, dan apakah segala sesuatu yang dinamakan nafsu itu busuk? Mungkin di antara kita ada yang bertanya demikian. Cinta dan nafsu adalah dua hal yang berbeda. Keduanya memiliki nilai yang relatif. Bisa baik, bisa juga buruk; tergantung bagaimana kita merangkainya. Apakah akan kita rangkai dengan pigura hakiki (cinta karena Allah), atau kita rias dengan pigura setan?

Terlalu zalim jika kita harus mengumbar atau membunuh salah satu di antara keduanya, karena keduanya adalah anugerah yang mesti disyukuri. Cinta dapat bernilai agung jika didasarkan pada kecintaan kepada Allah Swt. Sebaliknya, ia dapat melahirkan kehinaan manakala didasari oleh hawa nafsu syaithani. Demikian juga nafsu, tidak selamanya buruk; terutama jika ia diarahkan berdasarkan aturan Sang Pencipta nafsu itu sendiri.

Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. (QS. Yusuf [12]:53)

Intinya, cinta dan nafsu akan menjadi baik jika diatur dan diarahkan secara tepat, yaitu dengan syariat Allah Swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar